Selasa, 16 Desember 2014

logo san3wan

LOGO san3wan





nih bang, logo san3wan. jangan dijiplak ya. ini hak paten blog ini.

san3wan

San3wan
orang akan mengira aku ini adalah santri yang tidak ngerti di bidang teknologi. Bahasa gaulnya atawa bahasa “ndeso”nya “gak dong”. Salah pren, i’m-possible. Semuanya itu bisa terjadi seiring waktu jikalau kita berusaha. Kata pepatah “there is a will, there is a way” betul kagak. Santri bukan hanya ngaji kitab gundul atawa digundul gara-gara gak ngaji kitab gundul, but the “santri” is a way when you can know a religion. Intinya sebagai santri adalah jalan menuju kepengetahuan agama. Santri itu bukan hanya yang menetap di pondok utawi asrama. Namun santri yang PP alias pulang pergi alias kagak mukim di asrama itu juga namanya santri, namanya santri “kalong”. Kenapa “kalong” ?, karena setelah ia mendapatkan makanannya (ilmu) ia akan segera pergi. Bahasa lagunya “pergi untuk kembali”. Ya itulah kiranya, sekilas saja agar kalian paham tentag bagaimana jadinya santri yang dituduh kagak ngerti teknologi, padahal.
Murid, dari kata  ارد yang artinya menginginkan, maksud dari menginginkan itu sendiri ialah menginginkan ilmu. Jadi pantaskah murid untuk membangkang kepada gurunya, gak pantes kan, soalnya murid sendiri berarti orang yang menginginkan, jadi seharusnya itu nurut, lawong kita yang butuh je. Bener kagak ?.
“man aradad dunya, fa’alaihi bil ilmi, wa man aradal akhirat fa’alaihi bil ilmi, wa man aradahuma fa’alaaihi bil ilmi”. Sudah jelas kan tujuan kita. Ada lagi, “illa liya’buduun”. Apa anda masih ragu dengan tujuan hidup anda ?. Selain itu kita juga harus memperhatikan akhlaq, “innama bu’itstu li utammima maa karimal akhlaq”. Jangan takut selama anda masih berakhlaq.
Beda loh antar akhlaq dengan etika. Etika diambil dari kata “etis” yang berarti “budaya” (menurutku). Banyak yang ngomong, di antaranya: “gak etis lo”, “gak berbudaya lo”.  Menurut anda kata etis dengan budaya apakah saling berhubungan, bisa jadi harfiahnya sama kan ?. maka dari itu saya mengambil kesimpulan bahwa kedua kata di atas mempunyai maksud yang sama, oleh karenanya etika dengan akhlaq itupun berbeda maknanya. Ada orang beretika (berbudaya) namun tak berakhaq, ada orang berakhlaq sekaligus beretika. Contohnya: di suatu daerah kebiasaan tak pakai kerudung itu sudah biasa, bahkan orang-orang tak lagi risih dengan orang semacam ini. Artinya cewek ini sudah beretika (berbudaya) karena orang-orang tak lagi risih dengan hal tersebut. Ada lagi, di Jakarta berbusana layaknya artis adalah hal yang lumrah, bahkan pakai rok mini sekalipun adalah hal yang biasa-biasa saja, namun kalau anda pakai di desa, orang-orang akan mengatakan bahwa anda tak mempunyai etika, tak berbudaya. Kesimpulannya di Jakarta anda beretika namun jika di desa anda tak beretika. Jadi menurut anda etika dan akhlaq apakah mempunyai kesamaan ?.
Sekian dari saya.

al itsmun (dosa)

al-Itsmun
Berjumpa lagi dengan saya, BG si santri gendeng. Curhat seperti biasa, kebanyakan di daerah kota atawa di desa-desa semacam daerah pondok saya. Kebiasaan menikah dengan pakaian adat sudah hal yang lumrah. Namun mengertikah saudara dibalik pemakaian pakaian adat semacam itu mengandung sesuatu yang melanggar syariat. Nah itulah PR saudara sebagai orang yang hobi OL di FB atawa Twitter. Apalagi trendsetter masa ini sudah jamannya teknologi, kata ipin di serial Upin, Ipin dan kawan-kawan “semue ade di intarnet”. Beh anak sekecil itu aja ngerti kalau apa saja ada di internet. Mulai dari jajanan malam, toko online, bisnis cracking, phising, ilmu, ada di internet. Kenapa saya bicara semacam ini ?. karena, internet itulah gudangnya ilmu. Ilmu apa saja ada disitu. Mulai ilmu nyolong, ilmu nyantet, ada disitu. Kalau bahasa santri sih “ilmu laduni kuwi, ra usah takok nak ustadz wes ngerti”. Kalau dibandingkan dengan orang terdahulu seharusnya anak zaman sekarang lebih cerdas dan pintar dari pendahulu-pendahulu. Mereka belajar hanya di satu guru, tapi kita belajar dari sistem OL. Dimanapun dan kapanpun yang penting OL, pada saat itulah kita belajar. Asek.
            Nah pada pertemuan kali ini kita mbahas tentang al-Istmun (dosa). Dosa kalau saya artikan adalah sesuatu yang membuat orang takut. Bagaimana tidak, kalau saudara saya tanyai “neng, mau zina sama saya?”, “takut de-o-do, es-a-sa. DOSA, apalagi pake besar bang. Iiiiiicchhh atut”. Itu mah kalau soulmate anda alay bin lebay. Tapi pada intinya sama. Terlepas dari konotasi dan persepsi (asek) orang tentang pengertian itu saya serahkan kepada masing-masing pribadi.
            Orang yang tidak pernah dosa adalah Rasulullah –kan, beliau adalah maksum (terjaga dari dosa)- nah saya kasih resep atawa tips bagaimana cara seseorang tidak dikenakan dosa.
            Rufi’al Qalam atau terangkatnya pena, maksudnya ialah malaikat yang bertugas mencatat segala amal kita itu pena bin pulpen yang selalu dibawanya kesana kemari diangkat oleh Allah karena orang tersebut tidak dikenakan dosa. Salah satunya adalah orang gila, sebagaimana kita ketahui bahwa orang gila alias kamyu adalah orang yang hilang kesadarannya. Segala yang ditindaknya berlandaskan tanpa akal, maka dari itu sang orang gila tersebut tidak pernah dosa dan tidak pernah berpahala. MASUK SURGA, entah surga ataukah neraka itu mah masalah yang di atas, apa gak gitu?. Kalau anda mau setiap pekerjaan anda gak dikenai dosa ya silahkan gila dulu, mau?.
            Yang kedua, orang yang gak dikenai dosa salah satunya juga orang yang tidur. Contoh apabila anda tidur mulai jam 5 sore sampai jam 7 pagi. Sholat apa sajakah yang anda tinggalkan. Maghrib, isya’, sama shubuh kan. Lah kalau gitu ceritanya, anda harus mengqadlai atau mengganti sholat tersebut. Anda tidak berdosa tapi mempunyai kewajiban untuk membayar sholat tersebut, fahimtum ?.

            Terimakasih atas kunjungannya, thx.

santri gak hanya di kitabnya

Santri Gak Hanya di Kitabnya

Orang akan mengira aku ini adalah santri yang tidak ngerti di bidang teknologi. Bahasa gaulnya atawa bahasa “ndeso”nya “gak dong”. Salah pren, i’m-possible. Semuanya itu bisa terjadi seiring waktu jikalau kita berusaha. Kata pepatah “there is a will, there is a way” betul kagak. Santri bukan hanya ngaji kitab gundul atawa digundul gara-gara gak ngaji kitab gundul, but the “santri” is a way when you can know a religion. Intinya sebagai santri adalah jalan menuju kepengetahuan agama. Santri itu bukan hanya yang menetap di pndok utawi asrama. Namun santri yang PP alas pulang pergi alias kagak mukim di asrama itu juga namanya santri, namanya santri “kalong”. Kenapa “kalong” ?, karena setelah ia mendapatkan makanannya (ilmu) ia akan segera pergi. Bahasa lagunya “pergi untuk kembali”. Ya itulah kiranya, sekilas saja agar kalian paham tentag bagaimana jadinya santri yang dituduh kagak ngerti teknologi, padahal.
Murid, dari kata  ارد yang artinya menginginkan, maksud dari menginginkan itu sendiri ialah menginginkan ilmu. Jadi pantaskah murid untuk membangkang kepada gurunya, gak pantes kan, soalnya murid sendiri berarti orang yang menginginkan, jadi seharusnya itu nurut, lawong kita yang butuh je. Bener kagak ?.
“man aradad dunya, fa’alaihi bil ilmi, wa man aradal akhirat fa’alaihi bil ilmi, wa man aradahuma fa’alaaihi bil ilmi”. Sudah jelas kan tujuan kita. Ada lagi, “illa liya’buduun”. Apa anda masih ragu dengan tujuan hidup anda ?. Selain itu kita juga harus memperhatikan akhlaq, “innama bu’itstu li utammima maa karimal akhlaq”. Jangan takut selama anda masih berakhlaq.
Beda loh antar akhlaq dengan etika. Etika diambil dari kata “etis” yang berarti “budaya” (menurutku). Banyak yang ngomong, di antaranya: “gak etis lo”, “gak berbudaya lo”.  Menurut anda kata etis dengan budaya apakah saling berhubungan, bisa jadi harfiahnya sama kan ?. maka dari itu saya mengambil kesimpulan bahwa kedua kata di atas mempunyai maksud yang sama, oleh karenanya etika dengan akhlaq itupun berbeda maknanya. Ada orang beretika (berbudaya) namun tak berakhaq, ada orang berakhlaq sekaligus beretika. Contohnya: di suatu daerah kebiasaan tak pakai kerudung itu sudah biasa, bahkan orang-orang tak lagi risih dengan orang semacam ini. Artinya cewek ini suda beretika (berbudaya) karena orang-orang tak lagi risih dengan hal tersebut. Ada lagi, di Jakarta berbusana layaknya artis adalah hal yang lumrah, bahkan pakai rok mini sekalipun adalah hal yang biasa-biasa saja, namun kalau anda pakai di desa, orang-orng akan mengatakan bahwa anda tak mempunyai etika, tak berbudaya. Kesimpulannya di Jakarta anda beretika namun jika di desa anda tak beretika. Jadi menurut anda etika dan akhlaq apakah mempunyai kesamaan ?.

Sekian dari saya.

santri

pada penasaraan dengan blog saya. ikuti terus ya perkembangannya. sebagai pendahuluan, blog ini bercerita tentang santri (saya sendiri). ok..!!!



ya beginilah rupa saya, Bagus Ginanjar. Kelahiran Banjarmasin pada tanggal 25 Agustus 1998, dan sekarang menetap di Lamongan. tepatnya di desa Sendangduwur-Paciran-Lamongan.

ikuti terus ya perkembanganya.