San3wan
orang akan mengira aku ini
adalah santri yang tidak ngerti di bidang teknologi. Bahasa gaulnya atawa
bahasa “ndeso”nya “gak dong”. Salah pren, i’m-possible. Semuanya itu bisa
terjadi seiring waktu jikalau kita berusaha. Kata pepatah “there is a will,
there is a way” betul kagak. Santri bukan hanya ngaji kitab gundul atawa
digundul gara-gara gak ngaji kitab gundul, but the “santri” is a way when you
can know a religion. Intinya sebagai santri adalah jalan menuju kepengetahuan
agama. Santri itu bukan hanya yang menetap di pondok utawi asrama. Namun santri
yang PP alias pulang pergi alias kagak mukim di asrama itu juga namanya santri,
namanya santri “kalong”. Kenapa “kalong” ?, karena setelah ia mendapatkan
makanannya (ilmu) ia akan segera pergi. Bahasa lagunya “pergi untuk kembali”.
Ya itulah kiranya, sekilas saja agar kalian paham tentag bagaimana jadinya
santri yang dituduh kagak ngerti teknologi, padahal.
Murid, dari kata ارد yang artinya menginginkan, maksud dari menginginkan itu sendiri
ialah menginginkan ilmu. Jadi pantaskah murid untuk membangkang kepada gurunya,
gak pantes kan, soalnya murid sendiri berarti orang yang menginginkan, jadi
seharusnya itu nurut, lawong kita yang butuh je. Bener kagak ?.
“man aradad dunya, fa’alaihi
bil ilmi, wa man aradal akhirat fa’alaihi bil ilmi, wa man aradahuma fa’alaaihi
bil ilmi”. Sudah jelas kan tujuan kita.
Ada lagi, “illa liya’buduun”. Apa anda masih ragu dengan tujuan hidup
anda ?. Selain itu kita juga harus memperhatikan akhlaq, “innama bu’itstu li
utammima maa karimal akhlaq”. Jangan takut selama anda masih berakhlaq.
Beda loh antar akhlaq dengan
etika. Etika diambil dari kata “etis” yang berarti “budaya” (menurutku). Banyak
yang ngomong, di antaranya: “gak etis lo”, “gak berbudaya lo”. Menurut anda kata etis dengan budaya apakah
saling berhubungan, bisa jadi harfiahnya sama kan ?. maka dari itu saya
mengambil kesimpulan bahwa kedua kata di atas mempunyai maksud yang sama, oleh
karenanya etika dengan akhlaq itupun berbeda maknanya. Ada orang beretika
(berbudaya) namun tak berakhaq, ada orang berakhlaq sekaligus beretika.
Contohnya: di suatu daerah kebiasaan tak pakai kerudung itu sudah biasa, bahkan
orang-orang tak lagi risih dengan orang semacam ini. Artinya cewek ini sudah
beretika (berbudaya) karena orang-orang tak lagi risih dengan hal tersebut. Ada
lagi, di Jakarta berbusana layaknya artis adalah hal yang lumrah, bahkan pakai
rok mini sekalipun adalah hal yang biasa-biasa saja, namun kalau anda pakai di
desa, orang-orang akan mengatakan bahwa anda tak mempunyai etika, tak
berbudaya. Kesimpulannya di Jakarta anda beretika namun jika di desa anda tak
beretika. Jadi menurut anda etika dan akhlaq apakah mempunyai kesamaan ?.
Sekian dari saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar