GILA
Di antara kita banyak ditemukan orang
gila. Tapi ini tidak dilihat dari konsep yang selama ini orang awam pegang.
GILA kali ini berbeda dengan GILA pada umumnya. Gus Dur, orang menyebutnya wali
ke-10. Kalo ada wali ke-10 maka ada wali ke-1, ke-2, ke-3, dan seterusnya. Wali
itu bukan jabatan atau kedudukan. Tapi wali adalah sebuah kenikmatan yang
diberikan oleh allah terhadap makhluknya (yang spesial tentunya). “yang tau
wali (kekasih) Allah adalah hanya wali itu sendiri”. Jika kita berpikir bahwa
wali adalah sebuah pangkat, itu salah alamat bang. Wali bukan jabatan,
memangnya kalau jabatan apakah seorang wali kudu dilantik. Kalau seorang wali
pastilah ada pidato ke-wali-an (pidato saingan ke-negara-an). Terus pertanyaanya,
siapa yang bakalan ngelantik Wali ?. Malaikat ?. oh ya juga, banyak wali di
sekeliling kita tapi kita tidak menduganya saja. Semisal wali santri, wali
murid, wali siswa, dan wali nikah.
Majnun, dari konsep bahasa dan
artikulasi serta persepsi orang awam kebanyakan, memang kata GILA sedikit
mengaruh pada apresiasi negatif. All is bad, man. Semuanya buruk. Tapi jikalau
gila itu disandangkan pada konotasi positif. Kata yang berbau negatif tersebut
ikut berubah mengikuti konotasi tersebut. Semisal GILA ILMU (konotasi positif,
kata gila mengarah pada positif). GILA TAHTA ( kebanyakan jika dihubungkan
dengan tahta, orang kebanyakan akan menilai negatif. Karena apresiasi TAHTA
sendiri mengartikan bahwa “aku” ini gak ada baiknya) selanjutnya HARTA, dan
WANITA. Ini menurut saya.
Menurut Gus Dur. Presiden pertama itu
orangnya gila wanita, presiden kedua itu orangnya gila harta, presiden ketiga
itu orangnya gila ilmu. Lah baru presiden keempat itu yang “milih” yang “gila”.
Kali ini, di dalam guyoanan syaikhuna Gus Dur terdapat humor yang mengangkat
kata gila dalam keseharian kita. Kita belum tau maksud Gus Dur yang tersirat
dalam humornya yang tersurat tersebut. Perkataan orang yang berfilsafat tinggi
dengan orang awam sangat berbeda, bainas sama”i was sumber minyakk. Jauuuuuh
dan bisa saja tercapai tapi dengan perbandingan 1 : 1000000000000000000 (entah
berapa nol yang tertera). Bahasa pondoknya “LAITA” (suatu saat pasti bisa, tapi
kapan ?. ya kapan-kapan).
Dalam ilmu tasawuf (orangnya disebut
sufi) yang saya baca dan pelajari. Kebanyakan dari mereka sangat dekat dengan
alam dan pribadi mereka masing-masing. Jadi semua yang dilihat oleh mata mereka
bukanlah hal ihwal keduniaan tetapi ALLAH, seperti syekh siti jenar. Mereka
dianggap gila oleh orang awam kebanyakan, tapi anehnya kenapa Gus Dur gak
dianggap gila ?.
Orang-orang terdahulu sangat dekat
dengan alam mereka, sehingga mereka tidak terlalu memikirkan dunia karena isi
daripada dunia adalah fana’ belaka. Anak-anak, harta itu semua hanya fitnah
bagi kaum kalian. Bahkan di zaman rasulullah orang tidak begitu terlalu
berinisiatif memperoleh dunia. Buktiya makanan yang mereka punya hanya jatah
untuk besok dan besoknya saja. Bahkan dia tidak berpikir ke depannya bagaimana
?. Apakah mereka stress, depresi, gila ?. buktinya tidak.
Dan masyarakat modern semacam kita
malah terobsesi untuk memikirkan ihwal dunia. Mereka membiarkan keagamaan
mereka terkikis sedikit demi sedikit. “udkhuluu fis silmi kaaffah” masuklah
kalian ke agama islam secara universal, menyeluruh. Jangan setengah-setengah.
Masuk masjid dia ISLAM, keluar masjid dia KEJAM. Di masjid dia wiridan di luar
dia gendaan. Di masjid dia sembahyang di luar kelayapan. Apalagi yang akan
terjadi BUNG ?.
Mencintai seseorang aja secara
kaaffah, buktinya disuruh ketemuan dia dateng, ujung-ujungnya akhirnya dia yang
meteng. Namun disuruh i’tikaf 10 menit di masjid aja “sek kelingan HAPE” entok
SMS po ora. Ya begonolah ciri-ciri orang gila. Demi pacar dia he-eh, demi agama
dia ogah. Demi dunia dia he-eh (dengan segala cara lagi) demi ukhrowinya dia
ogah. Demi........, demi..........., demi........, dan untuk demi-demi yang
lainnya saya mewakili “HP istiqomah dibawa, tapi
tasbih istiqomah disimpan”. Yo opo ora ?. untung
aku mondok. Paling gak maksiatku sek akehan awakmu.
Di sini maksud daripada Gus Dur telah
terealisasikan secara sempurna bahwa kita semua adalah bagian daripada orang
GILA. Tinggal kita mengkonotasikan kata GILA itu sendiri dengan persepsi buruk
atau baik. Dan ingat, hidup gak akan
berputar normal tanpa orang gila. Share dan aplikasikan, OK.
Salam san3wan, dari akang GINANJAR.