Senin, 02 Februari 2015

GILA
          Di antara kita banyak ditemukan orang gila. Tapi ini tidak dilihat dari konsep yang selama ini orang awam pegang. GILA kali ini berbeda dengan GILA pada umumnya. Gus Dur, orang menyebutnya wali ke-10. Kalo ada wali ke-10 maka ada wali ke-1, ke-2, ke-3, dan seterusnya. Wali itu bukan jabatan atau kedudukan. Tapi wali adalah sebuah kenikmatan yang diberikan oleh allah terhadap makhluknya (yang spesial tentunya). “yang tau wali (kekasih) Allah adalah hanya wali itu sendiri”. Jika kita berpikir bahwa wali adalah sebuah pangkat, itu salah alamat bang. Wali bukan jabatan, memangnya kalau jabatan apakah seorang wali kudu dilantik. Kalau seorang wali pastilah ada pidato ke-wali-an (pidato saingan ke-negara-an). Terus pertanyaanya, siapa yang bakalan ngelantik Wali ?. Malaikat ?. oh ya juga, banyak wali di sekeliling kita tapi kita tidak menduganya saja. Semisal wali santri, wali murid, wali siswa, dan wali nikah.
          Majnun, dari konsep bahasa dan artikulasi serta persepsi orang awam kebanyakan, memang kata GILA sedikit mengaruh pada apresiasi negatif. All is bad, man. Semuanya buruk. Tapi jikalau gila itu disandangkan pada konotasi positif. Kata yang berbau negatif tersebut ikut berubah mengikuti konotasi tersebut. Semisal GILA ILMU (konotasi positif, kata gila mengarah pada positif). GILA TAHTA ( kebanyakan jika dihubungkan dengan tahta, orang kebanyakan akan menilai negatif. Karena apresiasi TAHTA sendiri mengartikan bahwa “aku” ini gak ada baiknya) selanjutnya HARTA, dan WANITA. Ini menurut saya.
          Menurut Gus Dur. Presiden pertama itu orangnya gila wanita, presiden kedua itu orangnya gila harta, presiden ketiga itu orangnya gila ilmu. Lah baru presiden keempat itu yang “milih” yang “gila”. Kali ini, di dalam guyoanan syaikhuna Gus Dur terdapat humor yang mengangkat kata gila dalam keseharian kita. Kita belum tau maksud Gus Dur yang tersirat dalam humornya yang tersurat tersebut. Perkataan orang yang berfilsafat tinggi dengan orang awam sangat berbeda, bainas sama”i was sumber minyakk. Jauuuuuh dan bisa saja tercapai tapi dengan perbandingan 1 : 1000000000000000000 (entah berapa nol yang tertera). Bahasa pondoknya “LAITA” (suatu saat pasti bisa, tapi kapan ?. ya kapan-kapan).
          Dalam ilmu tasawuf (orangnya disebut sufi) yang saya baca dan pelajari. Kebanyakan dari mereka sangat dekat dengan alam dan pribadi mereka masing-masing. Jadi semua yang dilihat oleh mata mereka bukanlah hal ihwal keduniaan tetapi ALLAH, seperti syekh siti jenar. Mereka dianggap gila oleh orang awam kebanyakan, tapi anehnya kenapa Gus Dur gak dianggap gila ?.
          Orang-orang terdahulu sangat dekat dengan alam mereka, sehingga mereka tidak terlalu memikirkan dunia karena isi daripada dunia adalah fana’ belaka. Anak-anak, harta itu semua hanya fitnah bagi kaum kalian. Bahkan di zaman rasulullah orang tidak begitu terlalu berinisiatif memperoleh dunia. Buktiya makanan yang mereka punya hanya jatah untuk besok dan besoknya saja. Bahkan dia tidak berpikir ke depannya bagaimana ?. Apakah mereka stress, depresi, gila ?. buktinya tidak.
          Dan masyarakat modern semacam kita malah terobsesi untuk memikirkan ihwal dunia. Mereka membiarkan keagamaan mereka terkikis sedikit demi sedikit. “udkhuluu fis silmi kaaffah” masuklah kalian ke agama islam secara universal, menyeluruh. Jangan setengah-setengah. Masuk masjid dia ISLAM, keluar masjid dia KEJAM. Di masjid dia wiridan di luar dia gendaan. Di masjid dia sembahyang di luar kelayapan. Apalagi yang akan terjadi BUNG ?.
          Mencintai seseorang aja secara kaaffah, buktinya disuruh ketemuan dia dateng, ujung-ujungnya akhirnya dia yang meteng. Namun disuruh i’tikaf 10 menit di masjid aja “sek kelingan HAPE” entok SMS po ora. Ya begonolah ciri-ciri orang gila. Demi pacar dia he-eh, demi agama dia ogah. Demi dunia dia he-eh (dengan segala cara lagi) demi ukhrowinya dia ogah. Demi........, demi..........., demi........, dan untuk demi-demi yang lainnya saya mewakili “HP istiqomah dibawa, tapi tasbih istiqomah disimpan”. Yo opo ora ?. untung aku mondok. Paling gak maksiatku sek akehan awakmu.
          Di sini maksud daripada Gus Dur telah terealisasikan secara sempurna bahwa kita semua adalah bagian daripada orang GILA. Tinggal kita mengkonotasikan kata GILA itu sendiri dengan persepsi buruk atau baik. Dan ingat,  hidup gak akan berputar normal tanpa orang gila. Share dan aplikasikan, OK.

          Salam san3wan, dari akang GINANJAR.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar