Senin, 02 Februari 2015

PAHATAN TINTA ANAKMU

Dear ibuku. Malaikat yang senantiasa datang di segala detik kehidupan.
18 tahun lalu aku telah menyusahkanmu. Membebanimu dengan hadirku dalam rahimmu. Terkadang engkaupun terjaga semalaman karenaku. Hanya dengan tendangan kecilku membuatmu begitu gembira sampai kau kabarkan ke sanak saudara.
17 tahun yang lalu engkau berjuang melahirkanku, bergulat dengan malaikat kematian demi melihat tangisanku. Namun pada saat aku menangis, kenapa engkau juga ikut menangis. Bukannya engkau seharusnya tersenyum melihat tubuh telanjangku.
16 tahun silam aku menangis dalam gulitanya malam, membuatmu terjaga karena tangisanku. Terkadang engkau singkirkan rasa jijikmu guna mencebokiku dan menyedot lendir dalam hidungku. Namun hanya dengan melihatku berjalan tergopoh-gopoh engkau larut dalam kebahagiaan.
15 tahun lalu aku memintamu hanya untuk duduk menemaniku di playgroup, aku tak peduli dengan kesibukanmu. Namun ketika aku mengeja satu persatu huruf dengan bantuanmu membuat senyum mengembang di bibirmu.
14 tahun yang lalu aku menangis meminta mainan, padahal uang yang kau punya hanya untuk makananku. Meskipun aku sekarang tak menangis seperti dulu namun engkau masih bisa mendengar tangisanku dengan hatimu tentang rumitnya hidupku.
13 tahun yang lalu seringkali para tetangga datang hanya untuk menghardik dan mencemoohmu karena kebandelanku. Ketika itu pula aku tersenyum melihat kesabaranmu.
12 tahun yang lalu terkadang aku membuatmu marah, mencuri uang yang ada di celengan hanya untuk membeli sebuah bola plastik. Namun sekarang aku mengerti mengapa engkau memarahiku meskipun itu adalah celenganku sendiri.
Untuk ibuku, malaikatku. Terima kasih sudah mau melahirkan dan membesarkanku, tiada kata-kata yang indah selain nasihatmu, tiada sayang yang lebih besar daripada sayangmu. Ya Allah, janganlah engkau ambil ibuku terlebih dahulu, karena aku tidak akan mampu.
Terima kasih ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar