PAHATAN
TINTA ANAKMU
Dear ibuku. Malaikat yang senantiasa datang di segala detik
kehidupan.
18 tahun lalu aku telah menyusahkanmu. Membebanimu dengan hadirku
dalam rahimmu. Terkadang engkaupun terjaga semalaman karenaku. Hanya dengan
tendangan kecilku membuatmu begitu gembira sampai kau kabarkan ke sanak
saudara.
17 tahun yang lalu engkau berjuang melahirkanku, bergulat dengan
malaikat kematian demi melihat tangisanku. Namun pada saat aku menangis, kenapa
engkau juga ikut menangis. Bukannya engkau seharusnya tersenyum melihat tubuh
telanjangku.
16 tahun silam aku menangis dalam gulitanya malam, membuatmu
terjaga karena tangisanku. Terkadang engkau singkirkan rasa jijikmu guna
mencebokiku dan menyedot lendir dalam hidungku. Namun hanya dengan melihatku
berjalan tergopoh-gopoh engkau larut dalam kebahagiaan.
15 tahun lalu aku memintamu hanya untuk duduk menemaniku di
playgroup, aku tak peduli dengan kesibukanmu. Namun ketika aku mengeja satu
persatu huruf dengan bantuanmu membuat senyum mengembang di bibirmu.
14 tahun yang lalu aku menangis meminta mainan, padahal uang yang
kau punya hanya untuk makananku. Meskipun aku sekarang tak menangis seperti
dulu namun engkau masih bisa mendengar tangisanku dengan hatimu tentang
rumitnya hidupku.
13 tahun yang lalu seringkali para tetangga datang hanya untuk
menghardik dan mencemoohmu karena kebandelanku. Ketika itu pula aku tersenyum
melihat kesabaranmu.
12 tahun yang lalu terkadang aku membuatmu marah, mencuri uang yang
ada di celengan hanya untuk membeli sebuah bola plastik. Namun sekarang aku
mengerti mengapa engkau memarahiku meskipun itu adalah celenganku sendiri.
Untuk ibuku, malaikatku. Terima kasih sudah mau melahirkan dan
membesarkanku, tiada kata-kata yang indah selain nasihatmu, tiada sayang yang
lebih besar daripada sayangmu. Ya Allah, janganlah engkau ambil ibuku terlebih
dahulu, karena aku tidak akan mampu.
Terima kasih ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar