Masih Mau Jadi PEJUANG?
Untuk menemanimu mempersiapkan diri buat SBMPTN
dan tes masuk PTN lainnya, aku mau share beberapa hal menarik
seputar pola belajar siswa-siswa angkatan terdahulu yang patut kalian
perhatikan supaya persiapan belajar SBMPTN & UM kamu makin
tokcer. Apa yang aku share di sini adalah hasil tulisan
mahasiswa yang ngaku idealis saat mahasiswa yang notabenenya juga santri ini
melihat diagram dari peserta SBMPTN yang setiap tahun tambah saja pesertanya.
Sebagaimana kamu sendiri bisa lihat, dari tahun ke
tahun paling-paling cuma sekitar beberapa persen doang peserta yang lolos
SBMPTN. Artinya persaingan SBMPTN tiap tahun itu emang sengit banget, hanya
mereka-mereka yang terseleksi secara ketat yang akhirnya bisa masuk universitas
impian mereka. Terus aku jadi rada penasaran dengan pertanyaan berikut:
“Kira-kira apa sih yang dilakukan oleh anak-anak
yang akhirnya lolos SBMPTN? Apa yang membuat persiapan mereka
lebih matang dibandingkan anak-anak yang gagal masuk PTN? Apakah anak-anak
yang akhirnya keterima di jurusan impiannya punya sifat atau ciri unik
tersendiri dibandingkan anak-anak yang gagal mewujudkan mimpinya?”
Nah, mungkin ada beberapa dari kamu yang mencoba
menjawab kalo salah satu ciri anak yang keterima PTN adalah anak pintar. Eits,
kalo kamu jawab begitu, berarti kamu kurang gaul, men. Lah
kenapa kok kurang gaul? Karena tidak sedikit cerita tentang anak yang
terkenal pintar di sekolahnya tapi malah gagal masuk jurusan dan universitas
impiannya. Sebaliknya, ada aja cerita anak begajulan tukang main, yang
malah akhirnya bisa nikung temen-temennya di bulan-bulan terakhir dan berhasil lolos
masuk PTN top. Lho, kok bisa gitu? Penasaran kan apa yang membedakan “anak
pintar gagal” ini dengan siswa lain yang mungkin gak terkenal pintar, tapi
malah berhasil lolos ke jurusan impiannya.
Pada tulisan ini, aku akan mencoba merangkum ciri atau
sifat utama apa aja sih yang dimiliki seorang pejuang SBMPTN yang membuat
mereka pantas meraih mimpinya. Rangkuman ciri/sifat ini aku ambil berdasarkan
pengalaman pribadi di lapangan, cerita para pejuang lain, dan cerita dari para guru-guru
privat temen seperjuanganku. Aku harap daftar di bawah ini bisa jadi bahan
refleksi buat kamu semua agar semakin bisa memantapkan mental dan persiapan
materi menuju impian kalian masing-masing. Cekidot!
CIRI 1: Mereka Setia pada Mimpinya
(Fokus, fokus, fokus!)
Ada banyak tipe dan jenis manusia loh.
Ada yang banyak menggeluti dunia organisasi, bisnis kecil-kecilan, hadrah,
bahkan sangat-sangat aktip di kegiatan luar sekolah yakni pramuka. Kadang kita
(sebagai orang normal) bertanya “maumu apasih, ini iya, itu iya?”. Sebenarnya
sah-sah aja sih kalo kamu ingin eksplor segala kemampuan selagi masih
muda. Akan tetapi, kita tetap harus bisa tau kapan untuk
mengutamakan prioritas pada waktunya. Sekarang coba kamu renungkan lagi
baik-baik, mana yang saat ini perlu kamu utamakan, apakah kegiatan organisasi,
kegiatan lomba, coba mulai bisnis kecil-kecilan, atau belajar untuk bisa masuk
universitas top nasional? Jawabannya balik ke diri kamu sendiri, di sini aku
cuma bantu ngingetin kamu untuk merenungkan kembali mana yang betul-betul
penting untuk jangka panjang.
Terlepas dari itu, tes masuk universitas negeri
(SBMPTN, SIMAK UI, UM, UTUL) adalah salah satu medan tempur paling menantang
dalam kehidupan pelajar. Usaha yang dikerahkan juga gak bisa
setengah-setengah. Buat kamu yang memutuskan bahwa masuk universitas
adalah hal yang utama, apakah kamu tetap mau multitasking dengan konsekuensi
kemampuan 100% kamu harus terbagi ke mana-mana? Coba renungkan lagi deh
mana hal yang perlu kamu prioritaskan, terutama untuk hal yang bersifat jangka
panjang.
Di sisi lain, ada juga nih tipe siswa yang ga
terlalu banyak kegiatan dan cuma mengikuti proses
belajar-mengajar di sekolah. Namun demikian, tetep aja ada tugas, UTS, UAS,
hingga UN yang bisa mengusik konsentrasi belajar untuk SBMPTN. Lalu bagaimana
dong para siswa yang akhirnya keterima PTN menyikapi hal tersebut?
Seperti yang udah sering kali para guru sarankan,
sebagai siswa kelas 12, fokus kalian sudah seharusnya adalah belajar untuk tes masuk universitas. Karena tingkat kesulitan tes masuk universitas
itu jaauuuhh lebih tinggi dari ujian sekolah dan UN. Perlu waktu yang banyak
dan konsentrasi yang khusus untuk bisa menyicil dan menguasai materi yang
diujikan di SBMPTN, terlebih lagi kalo selama ini kamu belajarnya masih
angot-angotan. Biasanya nih, kalo kamu udah terbiasa mengerjakan soal-soal
SBMPTN yang super duper susah, soal-soal di UN dan ujian sekolah mah udah ga
perlu dikhawatirkan lagi. Dengan kata lain, mempersiapankan diri untuk tes
masuk PTN udah cukup juga memberikan kamu bekal untuk menghadapi ujian sekolah
dan UN.
Salah satu ciri khas dari siswa-siswa yang
akhirnya keterima PTN adalah fokus untuk tes masuk universitas. Walaupun
mau ga mau persiapan belajar mereka emang sempat ketunda karena
ada ujian-ujian sekolah, tapi dari yang aku tau, akhirnya cuma
sekedar ikut ujian. Mendapatkan nilai sekedarnya udah cukup buat mereka. Mereka
tidak terlalu ambisius lagi untuk dapat nilai tinggi di UN atau US. Karena
mereka sangat memahami, pada akhirnya, nilai ujian sekolah dan UN tidak terlalu
menentukan lagi ketika ingin masuk universitas. Oiya, jangan lupa juga, di luar
sana banyak lho alumni SMA yang meluangkan waktu setahun penuh hanya untuk belajar
SBMPTN.
Seperti teman yang aku jumpai di Universitas
kebangganku, UM. Dia rela setahun dia gunakan untuk menunggu SBMPTN tahun kedua
sambil belajar di Kediri padahal orangnya asli kemantren loh.
Fokus juga berarti mengeliminasi segala distractions yang
bisa mengganggu konsentrasi, termasuk mengorbankan hal-hal yang dekat dengan
kita tapi ternyata malah memberi efek negatif pada proses persiapan belajar
SBMPTN. Kamu bisa langsung saja tanya kepada temanku yang ternyata sudah jatuh
bangun mengikuti ini itu bahkan mengeliminasi waktunya selama 3 bulan untuk
mengikuti les SBMPTN serta berapa banyak uang yang digelontorkan untuk
mengikuti les tersebut tapi masih saja belum tembus PTN. (kalau pengen tau
lebih jauh, tanyakan saja langsung ke aku)
CIRI 2: Mereka Berani Keluar dari
Zona Nyaman
Terkadang, aku masih aja mendapati siswa kelas 12 yang
berkomentar seperti ini:
“Duh, aku tuh ga bisa belajar lama-lama liatin buku.
Sejam pasti udah ketiduran”
“Aku paling ga bisa deh belajar sendiri. Aku tuh
bisanya belajar kalo ada orang yang bimbing langsung”
Well, sorry to say nih, berdasarkan pengalaman aku melihat begitu banyak
siswa yang jungkir balik untuk masuk PTN, kalimat-kalimat di atas mah
cuma excuse doang. Kalo aku lihat sih, mereka yang melontarkan
kalimat tersebut masih kebawa aura atau jiwa main dari kelas 10 dan 11. Mereka
masih belum memahami betapa sengitnya medan tempur yang akan mereka hadapi ke
depan. Mereka sih udah ada keinginan mau nerusin ke mana, biasanya sih pilihannya standar, jurusan bergengsi di
universitas bergengsi pula. Tapi sayangnya, mereka masih belum ngerti arti dari
keinginan tersebut. Mereka masih belum mengerti segala daya upaya yang
harus dikerahkan demi mencapai keinginan tersebut. Mereka masih belum mendalami secara sungguh-sungguh komitmen yang mereka buat untuk diri mereka sendiri.
Karena terlalu sibuk dengan drama di pikirannya (“aku
tuh ga bisa ini”, “aku tuh ga begitu”), jatuhnya persiapan tes
masuk PTN mereka hanya sekedarnya. Mendekati hari-hari menuju tes, mereka
kelabakan karena akhirnya menyadari apa yang mereka persiapkan tidaklah cukup.
Mulai deh kompromi terhadap target awal. Ujung-ujungnya,
mereka berakhir di pilihan yang sangat jauh dari keinginan awal.
Kebalikannya, siswa-siswa yang akhirnya keterima PTN,
memahami betul what it takes to reach their dreams. Mereka
sadar, medan tempur kali ini berbeda daripada ujian-ujian mereka sebelumnya sebagai
pelajar. Mereka mulai mengulik masalah belajar yang mereka miliki dan
menerapkan solusi tindak lanjut. Mereka berani keluar dari zona nyaman untuk
membentuk diri agar pantas diterima di jurusan dan universitas impian.
Nah, ada salah satu temanku yang sekarang dia kuliah
di STAN. Konon kabarnya kata temen-temennya yang sekarang kuliah di UM
menyatakan bahwa ia really unbelieve about his friend tembus di STAN.
Sungguh pada saat itu ternyata dia juga harus keluar dari zona nyamannya.
CIRI 3: Mereka Gak Menghafal
Tipe Soal atau Rumus, tapi Belajar Konsepnya!
Nah, mungkin ini salah satu
jurus kenapa kalian nggak usah bingungin UN kaya penutur kalian ini. Aku nggak
begitu ribet dengan UN. Yang aku ribetin malah soal-soal SBMPTN. UN nanti pada
hakikatnya tidak akan bisa kalian gunakan pada saat SBMPTN. Sungguh.
Ini nih salah satu poin kenapa ga sedikit anak
pintar gagal di tes masuk PTN. Terlebih dahulu, kita perlu bedah kata “pintar”
yang biasa dipake di lingkungan sekolah. “Anak pintar” itu biasanya
diasosiasikan dengan anak yang langganan dapat nilai bagus dan juara di
sekolah.
Tapi perlu diingat, nilai bagus di sekolah (Indonesia)
gak jarang bisa diraih dengan mengandalkan kemampuan menghafal doang dan sistem kebut semalam yang dikenal dengan sistem
SKS. Setelah ujian, buyar deh itu semua hafalan dari ingatan, esensi ilmunya
juga gak dapet. Aku pernah ketemu aja anak yang terkenal pintar di sekolahnya,
tapi sebenarnya dia ga begitu ngerti apa-apa.
Nah, cara belajar yang mengandalkan hafalan ini bahaya
kalo tetap diterapkan untuk persiapan SBMPTN dan tes PTN lainnya. Kalo kamu
udah mencicipi soal-soal SBMPTN, kamu bisa melihat dengan jelas bahwa materi
SBMPTN itu membutuhkan pemahaman konseptual dan kritis terhadap ilmu sains yang
terintegrasi. Jadi, kalo kamu masih mengandalkan cara belajar ngafal per bab
demi kejar setoran tanpa melihat perspektif besar dari ilmu itu sendiri, ada
baiknya kamu mulai ubah cara belajar kamu dari sekarang sebelum terlambat.
CIRI 4: Mereka Tidak Cepat Puas
dengan Nilai
Kalo aku perhatiin, mereka yang akhirnya emang
layak keterima masuk PTN top nasional itu tidak cepat puas sama
usahanya, dan terutama pada evaluasi nilai dari passing
grade (PG) ketika Try Out (TO). Misalnya nih, kamu
mau masuk jurusan Psikokamugi UNPAD. Melihat bocoran passing
grade dari beberapa bimbel ataupun dari online, kamu lihat
PG psiko UNPAD adalah 47. Pada bulan Februari, kamu berhasil mencetak skor
47,5 di TO yang kamu ikutin di salah satu bimbel. Kamu udah merasa puas
mulai mengendorkan belajar buat SBMPTN, "Ah, udah jebol lah
ini"
Aku mau ingetin nih supaya kamu gak kejebak dalam
kasus di atas. Kenapa? Setiap lembaga BIMBEL SBMPTN udah pernah jelasin bahwa
setiap PTN tidak pernah secara resmi mengumumkan passing grade yang digunakan untuk menyeleksi para
peserta SBMPTN. Mereka selalu menyaring siswa-siwa dengan nilai teratas.
Tahun kemarin, bisa saja PG 47 adalah batas minimal untuk diterima
di Psikokamugi UNPAD. Tapi tahun ini siapa yang tahu? Bisa saja
peminat Psikokamugi UNPAD tahun ini lebih banyak. Bisa saja juga kemampuan
mereka lebih jago dari tahun sebelumnya.
So, saran aku
belajarlah habis-habisan untuk dapat passing grade setinggi-tingginya
yang kamu bisa, agar kamu bisa semakin mengamankan posisi di jurusan yang kamu
tuju. Jangan cepat puas.
CIRI 5: Mereka Memanfaatkan
Waktu Sebaik Mungkin
Mereka yang akhirnya keterima di PTN impian
memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar, termasuk saat liburan. Mereka membayar
jadwal belajar mereka yang sempat dan bakal tertunda karena adanya tugas, ujian
sekolah, dan UN, pada saat liburan. Mereka juga sangat mengerti bahwa apa yang
mereka hadapi setelah liburan semester kelas 12 ini berbeda dengan yang
sebelum-sebelumnya. Kehidupan yang benar-benar berbeda di tahun depan, mulai
dari lingkungan, teman, gaya hidup, materi kuliah, hingga sistem
pembelajaran baru; memerlukan persiapan yang sangat matang. Mereka yang
memanfaatkan waktu liburan untuk fokus belajar tes masuk PTN memiliki mental
yang lebih baik ketika tes PTN bahkan ketika perkuliahan mulai bergulir.
"Begitu juga ketika liburan kenaikan kelas 12, aku
ulang lagi semua materi matematika, fisika, kimia, bahkan hampir semua tak
tumpuk di atas kasurku selama berbulan-bulan. Dengan tujuan untuk
mempelajarinya. Alhasil, ketika
mengerjakan soal tes masuk PTN, masih saja aku merasa kesulitan. Bahkan sangat
sulit dan tidak sama seperti yang tak bayangin." Bagus Ginanjar ~ Mahasiswa S1 Teknik Sipil Universitas
Negeri Malang angkatan 2016.
Nah, udah pada kebayang nggak tentang sengitnya
SBMPTN. Semoga paparan yang tak berikan tadi bermanfaat. Clean your acts,
focus, and do your best to make yourself deserve your own dreams!
Oh ya, nantinya jika kalian-kalian ini udah pada keluar
dari sekolahan kalian. Jangan belaga lupa dan nggak mau lagi gabung dengan
temen-temen alumni yang ada di daerah PTN kalian. Soalnya yang tua-tua itu udah
rela berjuang dan berkorban bagi kalian-kalian semua. Ngerti kan, ‘cause it
is the reason for changes. It clears out the old to make a new way for the new.
Yaa kalian-kalian ini yang baru-baru, inget!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar