Kamis, 08 Desember 2016

Masih Mau Jadi PEJUANG?

Untuk menemanimu mempersiapkan diri buat SBMPTN dan tes masuk PTN lainnya, aku mau share beberapa hal menarik seputar pola belajar siswa-siswa angkatan terdahulu yang patut kalian perhatikan supaya persiapan belajar SBMPTN & UM kamu makin tokcer. Apa yang aku share di sini adalah hasil tulisan mahasiswa yang ngaku idealis saat mahasiswa yang notabenenya juga santri ini melihat diagram dari peserta SBMPTN yang setiap tahun tambah saja pesertanya.
Sebagaimana kamu sendiri bisa lihat, dari tahun ke tahun paling-paling cuma sekitar beberapa persen doang peserta yang lolos SBMPTN. Artinya persaingan SBMPTN tiap tahun itu emang sengit banget, hanya mereka-mereka yang terseleksi secara ketat yang akhirnya bisa masuk universitas impian mereka. Terus aku jadi rada penasaran dengan pertanyaan berikut:

“Kira-kira apa sih yang dilakukan oleh anak-anak yang akhirnya lolos SBMPTN? Apa yang membuat persiapan mereka lebih matang dibandingkan anak-anak yang gagal masuk PTN? Apakah anak-anak yang akhirnya keterima di jurusan impiannya punya sifat atau ciri unik tersendiri dibandingkan anak-anak yang gagal mewujudkan mimpinya?”

Nah, mungkin ada beberapa dari kamu yang mencoba menjawab kalo salah satu ciri anak yang keterima PTN adalah anak pintar. Eits, kalo kamu jawab begitu, berarti kamu kurang gaul, men. Lah kenapa kok kurang gaul? Karena tidak sedikit cerita tentang anak yang terkenal pintar di sekolahnya tapi malah gagal masuk jurusan dan universitas impiannya. Sebaliknya, ada aja cerita anak begajulan tukang main, yang malah akhirnya bisa nikung temen-temennya di bulan-bulan terakhir dan berhasil lolos masuk PTN top. Lho, kok bisa gitu? Penasaran kan apa yang membedakan “anak pintar gagal” ini dengan siswa lain yang mungkin gak terkenal pintar, tapi malah berhasil lolos ke jurusan impiannya.
Pada tulisan ini, aku akan mencoba merangkum ciri atau sifat utama apa aja sih yang dimiliki seorang pejuang SBMPTN yang membuat mereka pantas meraih mimpinya. Rangkuman ciri/sifat ini aku ambil berdasarkan pengalaman pribadi di lapangan, cerita para pejuang lain, dan cerita dari para guru-guru privat temen seperjuanganku. Aku harap daftar di bawah ini bisa jadi bahan refleksi buat kamu semua agar semakin bisa memantapkan mental dan persiapan materi menuju impian kalian masing-masing. Cekidot!

CIRI 1: Mereka Setia pada Mimpinya (Fokus, fokus, fokus!)
          Ada banyak tipe dan jenis manusia loh. Ada yang banyak menggeluti dunia organisasi, bisnis kecil-kecilan, hadrah, bahkan sangat-sangat aktip di kegiatan luar sekolah yakni pramuka. Kadang kita (sebagai orang normal) bertanya “maumu apasih, ini iya, itu iya?”. Sebenarnya sah-sah aja sih kalo kamu ingin eksplor segala kemampuan selagi masih muda. Akan tetapi, kita tetap harus bisa tau kapan untuk mengutamakan prioritas pada waktunya. Sekarang coba kamu renungkan lagi baik-baik, mana yang saat ini perlu kamu utamakan, apakah kegiatan organisasi, kegiatan lomba, coba mulai bisnis kecil-kecilan, atau belajar untuk bisa masuk universitas top nasional? Jawabannya balik ke diri kamu sendiri, di sini aku cuma bantu ngingetin kamu untuk merenungkan kembali mana yang betul-betul penting untuk jangka panjang.
Terlepas dari itu, tes masuk universitas negeri (SBMPTN, SIMAK UI, UM, UTUL) adalah salah satu medan tempur paling menantang dalam kehidupan pelajar. Usaha yang dikerahkan juga gak bisa setengah-setengah. Buat kamu yang memutuskan bahwa masuk universitas adalah hal yang utama, apakah kamu tetap mau multitasking dengan konsekuensi kemampuan 100% kamu harus terbagi ke mana-mana? Coba renungkan lagi deh mana hal yang perlu kamu prioritaskan, terutama untuk hal yang bersifat jangka panjang.
Di sisi lain, ada juga nih tipe siswa yang ga terlalu banyak kegiatan dan cuma mengikuti proses belajar-mengajar di sekolah. Namun demikian, tetep aja ada tugas, UTS, UAS, hingga UN yang bisa mengusik konsentrasi belajar untuk SBMPTN. Lalu bagaimana dong para siswa yang akhirnya keterima PTN menyikapi hal tersebut?
Seperti yang udah sering kali para guru sarankan, sebagai siswa kelas 12, fokus kalian sudah seharusnya adalah belajar untuk tes masuk universitas. Karena tingkat kesulitan tes masuk universitas itu jaauuuhh lebih tinggi dari ujian sekolah dan UN. Perlu waktu yang banyak dan konsentrasi yang khusus untuk bisa menyicil dan menguasai materi yang diujikan di SBMPTN, terlebih lagi kalo selama ini kamu belajarnya masih angot-angotan. Biasanya nih, kalo kamu udah terbiasa mengerjakan soal-soal SBMPTN yang super duper susah, soal-soal di UN dan ujian sekolah mah udah ga perlu dikhawatirkan lagi. Dengan kata lain, mempersiapankan diri untuk tes masuk PTN udah cukup juga memberikan kamu bekal untuk menghadapi ujian sekolah dan UN.
Salah satu ciri khas dari siswa-siswa yang akhirnya keterima PTN adalah fokus untuk tes masuk universitas. Walaupun mau ga mau persiapan belajar mereka emang sempat ketunda karena ada ujian-ujian sekolah, tapi dari yang aku tau, akhirnya cuma sekedar ikut ujian. Mendapatkan nilai sekedarnya udah cukup buat mereka. Mereka tidak terlalu ambisius lagi untuk dapat nilai tinggi di UN atau US. Karena mereka sangat memahami, pada akhirnya, nilai ujian sekolah dan UN tidak terlalu menentukan lagi ketika ingin masuk universitas. Oiya, jangan lupa juga, di luar sana banyak lho alumni SMA yang meluangkan waktu setahun penuh hanya untuk belajar SBMPTN.
Seperti teman yang aku jumpai di Universitas kebangganku, UM. Dia rela setahun dia gunakan untuk menunggu SBMPTN tahun kedua sambil belajar di Kediri padahal orangnya asli kemantren loh.
Fokus juga berarti mengeliminasi segala distractions yang bisa mengganggu konsentrasi, termasuk mengorbankan hal-hal yang dekat dengan kita tapi ternyata malah memberi efek negatif pada proses persiapan belajar SBMPTN. Kamu bisa langsung saja tanya kepada temanku yang ternyata sudah jatuh bangun mengikuti ini itu bahkan mengeliminasi waktunya selama 3 bulan untuk mengikuti les SBMPTN serta berapa banyak uang yang digelontorkan untuk mengikuti les tersebut tapi masih saja belum tembus PTN. (kalau pengen tau lebih jauh, tanyakan saja langsung ke aku)

CIRI 2: Mereka Berani Keluar dari Zona Nyaman
Terkadang, aku masih aja mendapati siswa kelas 12 yang berkomentar seperti ini:

“Duh, aku tuh ga bisa belajar lama-lama liatin buku. Sejam pasti udah ketiduran”

“Aku paling ga bisa deh belajar sendiri. Aku tuh bisanya belajar kalo ada orang yang bimbing langsung”

Well, sorry to say nih, berdasarkan pengalaman aku melihat begitu banyak siswa yang jungkir balik untuk masuk PTN, kalimat-kalimat di atas mah cuma excuse doang. Kalo aku lihat sih, mereka yang melontarkan kalimat tersebut masih kebawa aura atau jiwa main dari kelas 10 dan 11. Mereka masih belum memahami betapa sengitnya medan tempur yang akan mereka hadapi ke depan. Mereka sih udah ada keinginan mau nerusin ke mana, biasanya sih pilihannya standar, jurusan bergengsi di universitas bergengsi pula. Tapi sayangnya, mereka masih belum ngerti arti dari keinginan tersebut. Mereka masih belum mengerti segala daya upaya yang harus dikerahkan demi mencapai keinginan tersebut. Mereka masih belum mendalami secara sungguh-sungguh komitmen yang mereka buat untuk diri mereka sendiri.
Karena terlalu sibuk dengan drama di pikirannya (“aku tuh ga bisa ini”, “aku tuh ga begitu”), jatuhnya persiapan tes masuk PTN mereka hanya sekedarnya. Mendekati hari-hari menuju tes, mereka kelabakan karena akhirnya menyadari apa yang mereka persiapkan tidaklah cukup. Mulai deh kompromi terhadap target awal. Ujung-ujungnya, mereka berakhir di pilihan yang sangat jauh dari keinginan awal.
Kebalikannya, siswa-siswa yang akhirnya keterima PTN, memahami betul what it takes to reach their dreams. Mereka sadar, medan tempur kali ini berbeda daripada ujian-ujian mereka sebelumnya sebagai pelajar. Mereka mulai mengulik masalah belajar yang mereka miliki dan menerapkan solusi tindak lanjut. Mereka berani keluar dari zona nyaman untuk membentuk diri agar pantas diterima di jurusan dan universitas impian.
Nah, ada salah satu temanku yang sekarang dia kuliah di STAN. Konon kabarnya kata temen-temennya yang sekarang kuliah di UM menyatakan bahwa ia really unbelieve about his friend tembus di STAN. Sungguh pada saat itu ternyata dia juga harus keluar dari zona nyamannya.

CIRI 3: Mereka Gak Menghafal Tipe Soal atau Rumus, tapi Belajar Konsepnya!
          Nah, mungkin ini salah satu jurus kenapa kalian nggak usah bingungin UN kaya penutur kalian ini. Aku nggak begitu ribet dengan UN. Yang aku ribetin malah soal-soal SBMPTN. UN nanti pada hakikatnya tidak akan bisa kalian gunakan pada saat SBMPTN. Sungguh.
Ini nih salah satu poin kenapa ga sedikit anak pintar gagal di tes masuk PTN. Terlebih dahulu, kita perlu bedah kata “pintar” yang biasa dipake di lingkungan sekolah. “Anak pintar” itu biasanya diasosiasikan dengan anak yang langganan dapat nilai bagus dan juara di sekolah.
Tapi perlu diingat, nilai bagus di sekolah (Indonesia) gak jarang bisa diraih dengan mengandalkan kemampuan menghafal doang dan sistem kebut semalam yang dikenal dengan sistem SKS. Setelah ujian, buyar deh itu semua hafalan dari ingatan, esensi ilmunya juga gak dapet. Aku pernah ketemu aja anak yang terkenal pintar di sekolahnya, tapi sebenarnya dia ga begitu ngerti apa-apa.
Nah, cara belajar yang mengandalkan hafalan ini bahaya kalo tetap diterapkan untuk persiapan SBMPTN dan tes PTN lainnya. Kalo kamu udah mencicipi soal-soal SBMPTN, kamu bisa melihat dengan jelas bahwa materi SBMPTN itu membutuhkan pemahaman konseptual dan kritis terhadap ilmu sains yang terintegrasi. Jadi, kalo kamu masih mengandalkan cara belajar ngafal per bab demi kejar setoran tanpa melihat perspektif besar dari ilmu itu sendiri, ada baiknya kamu mulai ubah cara belajar kamu dari sekarang sebelum terlambat.

CIRI 4: Mereka Tidak Cepat Puas dengan Nilai
Kalo aku perhatiin, mereka yang akhirnya emang layak keterima masuk PTN top nasional itu tidak cepat puas sama usahanya, dan terutama pada evaluasi nilai dari passing grade (PG) ketika Try Out (TO). Misalnya nih, kamu mau masuk jurusan Psikokamugi UNPAD. Melihat bocoran passing grade dari beberapa bimbel ataupun dari online, kamu lihat PG psiko UNPAD adalah 47. Pada bulan Februari, kamu berhasil mencetak skor 47,5 di TO yang kamu ikutin di salah satu bimbel. Kamu udah merasa puas mulai mengendorkan belajar buat SBMPTN, "Ah, udah jebol lah ini"
Aku mau ingetin nih supaya kamu gak kejebak dalam kasus di atas. Kenapa? Setiap lembaga BIMBEL SBMPTN udah pernah jelasin bahwa setiap PTN tidak pernah secara resmi mengumumkan passing grade yang digunakan untuk menyeleksi para peserta SBMPTN. Mereka selalu menyaring siswa-siwa dengan nilai teratas. Tahun kemarin, bisa saja PG 47 adalah batas minimal untuk diterima di Psikokamugi UNPAD. Tapi tahun ini siapa yang tahu? Bisa saja peminat Psikokamugi UNPAD tahun ini lebih banyak. Bisa saja juga kemampuan mereka lebih jago dari tahun sebelumnya.
So, saran aku belajarlah habis-habisan untuk dapat passing grade setinggi-tingginya yang kamu bisa, agar kamu bisa semakin mengamankan posisi di jurusan yang kamu tuju. Jangan cepat puas.

CIRI 5: Mereka Memanfaatkan Waktu Sebaik Mungkin
Mereka yang akhirnya keterima di PTN impian memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar, termasuk saat liburan. Mereka membayar jadwal belajar mereka yang sempat dan bakal tertunda karena adanya tugas, ujian sekolah, dan UN, pada saat liburan. Mereka juga sangat mengerti bahwa apa yang mereka hadapi setelah liburan semester kelas 12 ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Kehidupan yang benar-benar berbeda di tahun depan, mulai dari lingkungan, teman, gaya hidup, materi kuliah, hingga sistem pembelajaran baru; memerlukan persiapan yang sangat matang. Mereka yang memanfaatkan waktu liburan untuk fokus belajar tes masuk PTN memiliki mental yang lebih baik ketika tes PTN bahkan ketika perkuliahan mulai bergulir.
"Begitu juga ketika liburan kenaikan kelas 12, aku ulang lagi semua materi matematika, fisika, kimia, bahkan hampir semua tak tumpuk di atas kasurku selama berbulan-bulan. Dengan tujuan untuk mempelajarinya.  Alhasil, ketika mengerjakan soal tes masuk PTN, masih saja aku merasa kesulitan. Bahkan sangat sulit dan tidak sama seperti yang tak bayangin." Bagus Ginanjar ~ Mahasiswa S1 Teknik Sipil Universitas Negeri Malang angkatan 2016.
Nah, udah pada kebayang nggak tentang sengitnya SBMPTN. Semoga paparan yang tak berikan tadi bermanfaat. Clean your acts, focus, and do your best to make yourself deserve your own dreams!

Oh ya, nantinya jika kalian-kalian ini udah pada keluar dari sekolahan kalian. Jangan belaga lupa dan nggak mau lagi gabung dengan temen-temen alumni yang ada di daerah PTN kalian. Soalnya yang tua-tua itu udah rela berjuang dan berkorban bagi kalian-kalian semua. Ngerti kan, ‘cause it is the reason for changes. It clears out the old to make a new way for the new. Yaa kalian-kalian ini yang baru-baru, inget!

Senin, 02 Februari 2015

PAHATAN TINTA ANAKMU

Dear ibuku. Malaikat yang senantiasa datang di segala detik kehidupan.
18 tahun lalu aku telah menyusahkanmu. Membebanimu dengan hadirku dalam rahimmu. Terkadang engkaupun terjaga semalaman karenaku. Hanya dengan tendangan kecilku membuatmu begitu gembira sampai kau kabarkan ke sanak saudara.
17 tahun yang lalu engkau berjuang melahirkanku, bergulat dengan malaikat kematian demi melihat tangisanku. Namun pada saat aku menangis, kenapa engkau juga ikut menangis. Bukannya engkau seharusnya tersenyum melihat tubuh telanjangku.
16 tahun silam aku menangis dalam gulitanya malam, membuatmu terjaga karena tangisanku. Terkadang engkau singkirkan rasa jijikmu guna mencebokiku dan menyedot lendir dalam hidungku. Namun hanya dengan melihatku berjalan tergopoh-gopoh engkau larut dalam kebahagiaan.
15 tahun lalu aku memintamu hanya untuk duduk menemaniku di playgroup, aku tak peduli dengan kesibukanmu. Namun ketika aku mengeja satu persatu huruf dengan bantuanmu membuat senyum mengembang di bibirmu.
14 tahun yang lalu aku menangis meminta mainan, padahal uang yang kau punya hanya untuk makananku. Meskipun aku sekarang tak menangis seperti dulu namun engkau masih bisa mendengar tangisanku dengan hatimu tentang rumitnya hidupku.
13 tahun yang lalu seringkali para tetangga datang hanya untuk menghardik dan mencemoohmu karena kebandelanku. Ketika itu pula aku tersenyum melihat kesabaranmu.
12 tahun yang lalu terkadang aku membuatmu marah, mencuri uang yang ada di celengan hanya untuk membeli sebuah bola plastik. Namun sekarang aku mengerti mengapa engkau memarahiku meskipun itu adalah celenganku sendiri.
Untuk ibuku, malaikatku. Terima kasih sudah mau melahirkan dan membesarkanku, tiada kata-kata yang indah selain nasihatmu, tiada sayang yang lebih besar daripada sayangmu. Ya Allah, janganlah engkau ambil ibuku terlebih dahulu, karena aku tidak akan mampu.
Terima kasih ibu.
GILA
          Di antara kita banyak ditemukan orang gila. Tapi ini tidak dilihat dari konsep yang selama ini orang awam pegang. GILA kali ini berbeda dengan GILA pada umumnya. Gus Dur, orang menyebutnya wali ke-10. Kalo ada wali ke-10 maka ada wali ke-1, ke-2, ke-3, dan seterusnya. Wali itu bukan jabatan atau kedudukan. Tapi wali adalah sebuah kenikmatan yang diberikan oleh allah terhadap makhluknya (yang spesial tentunya). “yang tau wali (kekasih) Allah adalah hanya wali itu sendiri”. Jika kita berpikir bahwa wali adalah sebuah pangkat, itu salah alamat bang. Wali bukan jabatan, memangnya kalau jabatan apakah seorang wali kudu dilantik. Kalau seorang wali pastilah ada pidato ke-wali-an (pidato saingan ke-negara-an). Terus pertanyaanya, siapa yang bakalan ngelantik Wali ?. Malaikat ?. oh ya juga, banyak wali di sekeliling kita tapi kita tidak menduganya saja. Semisal wali santri, wali murid, wali siswa, dan wali nikah.
          Majnun, dari konsep bahasa dan artikulasi serta persepsi orang awam kebanyakan, memang kata GILA sedikit mengaruh pada apresiasi negatif. All is bad, man. Semuanya buruk. Tapi jikalau gila itu disandangkan pada konotasi positif. Kata yang berbau negatif tersebut ikut berubah mengikuti konotasi tersebut. Semisal GILA ILMU (konotasi positif, kata gila mengarah pada positif). GILA TAHTA ( kebanyakan jika dihubungkan dengan tahta, orang kebanyakan akan menilai negatif. Karena apresiasi TAHTA sendiri mengartikan bahwa “aku” ini gak ada baiknya) selanjutnya HARTA, dan WANITA. Ini menurut saya.
          Menurut Gus Dur. Presiden pertama itu orangnya gila wanita, presiden kedua itu orangnya gila harta, presiden ketiga itu orangnya gila ilmu. Lah baru presiden keempat itu yang “milih” yang “gila”. Kali ini, di dalam guyoanan syaikhuna Gus Dur terdapat humor yang mengangkat kata gila dalam keseharian kita. Kita belum tau maksud Gus Dur yang tersirat dalam humornya yang tersurat tersebut. Perkataan orang yang berfilsafat tinggi dengan orang awam sangat berbeda, bainas sama”i was sumber minyakk. Jauuuuuh dan bisa saja tercapai tapi dengan perbandingan 1 : 1000000000000000000 (entah berapa nol yang tertera). Bahasa pondoknya “LAITA” (suatu saat pasti bisa, tapi kapan ?. ya kapan-kapan).
          Dalam ilmu tasawuf (orangnya disebut sufi) yang saya baca dan pelajari. Kebanyakan dari mereka sangat dekat dengan alam dan pribadi mereka masing-masing. Jadi semua yang dilihat oleh mata mereka bukanlah hal ihwal keduniaan tetapi ALLAH, seperti syekh siti jenar. Mereka dianggap gila oleh orang awam kebanyakan, tapi anehnya kenapa Gus Dur gak dianggap gila ?.
          Orang-orang terdahulu sangat dekat dengan alam mereka, sehingga mereka tidak terlalu memikirkan dunia karena isi daripada dunia adalah fana’ belaka. Anak-anak, harta itu semua hanya fitnah bagi kaum kalian. Bahkan di zaman rasulullah orang tidak begitu terlalu berinisiatif memperoleh dunia. Buktiya makanan yang mereka punya hanya jatah untuk besok dan besoknya saja. Bahkan dia tidak berpikir ke depannya bagaimana ?. Apakah mereka stress, depresi, gila ?. buktinya tidak.
          Dan masyarakat modern semacam kita malah terobsesi untuk memikirkan ihwal dunia. Mereka membiarkan keagamaan mereka terkikis sedikit demi sedikit. “udkhuluu fis silmi kaaffah” masuklah kalian ke agama islam secara universal, menyeluruh. Jangan setengah-setengah. Masuk masjid dia ISLAM, keluar masjid dia KEJAM. Di masjid dia wiridan di luar dia gendaan. Di masjid dia sembahyang di luar kelayapan. Apalagi yang akan terjadi BUNG ?.
          Mencintai seseorang aja secara kaaffah, buktinya disuruh ketemuan dia dateng, ujung-ujungnya akhirnya dia yang meteng. Namun disuruh i’tikaf 10 menit di masjid aja “sek kelingan HAPE” entok SMS po ora. Ya begonolah ciri-ciri orang gila. Demi pacar dia he-eh, demi agama dia ogah. Demi dunia dia he-eh (dengan segala cara lagi) demi ukhrowinya dia ogah. Demi........, demi..........., demi........, dan untuk demi-demi yang lainnya saya mewakili “HP istiqomah dibawa, tapi tasbih istiqomah disimpan”. Yo opo ora ?. untung aku mondok. Paling gak maksiatku sek akehan awakmu.
          Di sini maksud daripada Gus Dur telah terealisasikan secara sempurna bahwa kita semua adalah bagian daripada orang GILA. Tinggal kita mengkonotasikan kata GILA itu sendiri dengan persepsi buruk atau baik. Dan ingat,  hidup gak akan berputar normal tanpa orang gila. Share dan aplikasikan, OK.

          Salam san3wan, dari akang GINANJAR.

Selasa, 16 Desember 2014

logo san3wan

LOGO san3wan





nih bang, logo san3wan. jangan dijiplak ya. ini hak paten blog ini.

san3wan

San3wan
orang akan mengira aku ini adalah santri yang tidak ngerti di bidang teknologi. Bahasa gaulnya atawa bahasa “ndeso”nya “gak dong”. Salah pren, i’m-possible. Semuanya itu bisa terjadi seiring waktu jikalau kita berusaha. Kata pepatah “there is a will, there is a way” betul kagak. Santri bukan hanya ngaji kitab gundul atawa digundul gara-gara gak ngaji kitab gundul, but the “santri” is a way when you can know a religion. Intinya sebagai santri adalah jalan menuju kepengetahuan agama. Santri itu bukan hanya yang menetap di pondok utawi asrama. Namun santri yang PP alias pulang pergi alias kagak mukim di asrama itu juga namanya santri, namanya santri “kalong”. Kenapa “kalong” ?, karena setelah ia mendapatkan makanannya (ilmu) ia akan segera pergi. Bahasa lagunya “pergi untuk kembali”. Ya itulah kiranya, sekilas saja agar kalian paham tentag bagaimana jadinya santri yang dituduh kagak ngerti teknologi, padahal.
Murid, dari kata  ارد yang artinya menginginkan, maksud dari menginginkan itu sendiri ialah menginginkan ilmu. Jadi pantaskah murid untuk membangkang kepada gurunya, gak pantes kan, soalnya murid sendiri berarti orang yang menginginkan, jadi seharusnya itu nurut, lawong kita yang butuh je. Bener kagak ?.
“man aradad dunya, fa’alaihi bil ilmi, wa man aradal akhirat fa’alaihi bil ilmi, wa man aradahuma fa’alaaihi bil ilmi”. Sudah jelas kan tujuan kita. Ada lagi, “illa liya’buduun”. Apa anda masih ragu dengan tujuan hidup anda ?. Selain itu kita juga harus memperhatikan akhlaq, “innama bu’itstu li utammima maa karimal akhlaq”. Jangan takut selama anda masih berakhlaq.
Beda loh antar akhlaq dengan etika. Etika diambil dari kata “etis” yang berarti “budaya” (menurutku). Banyak yang ngomong, di antaranya: “gak etis lo”, “gak berbudaya lo”.  Menurut anda kata etis dengan budaya apakah saling berhubungan, bisa jadi harfiahnya sama kan ?. maka dari itu saya mengambil kesimpulan bahwa kedua kata di atas mempunyai maksud yang sama, oleh karenanya etika dengan akhlaq itupun berbeda maknanya. Ada orang beretika (berbudaya) namun tak berakhaq, ada orang berakhlaq sekaligus beretika. Contohnya: di suatu daerah kebiasaan tak pakai kerudung itu sudah biasa, bahkan orang-orang tak lagi risih dengan orang semacam ini. Artinya cewek ini sudah beretika (berbudaya) karena orang-orang tak lagi risih dengan hal tersebut. Ada lagi, di Jakarta berbusana layaknya artis adalah hal yang lumrah, bahkan pakai rok mini sekalipun adalah hal yang biasa-biasa saja, namun kalau anda pakai di desa, orang-orang akan mengatakan bahwa anda tak mempunyai etika, tak berbudaya. Kesimpulannya di Jakarta anda beretika namun jika di desa anda tak beretika. Jadi menurut anda etika dan akhlaq apakah mempunyai kesamaan ?.
Sekian dari saya.

al itsmun (dosa)

al-Itsmun
Berjumpa lagi dengan saya, BG si santri gendeng. Curhat seperti biasa, kebanyakan di daerah kota atawa di desa-desa semacam daerah pondok saya. Kebiasaan menikah dengan pakaian adat sudah hal yang lumrah. Namun mengertikah saudara dibalik pemakaian pakaian adat semacam itu mengandung sesuatu yang melanggar syariat. Nah itulah PR saudara sebagai orang yang hobi OL di FB atawa Twitter. Apalagi trendsetter masa ini sudah jamannya teknologi, kata ipin di serial Upin, Ipin dan kawan-kawan “semue ade di intarnet”. Beh anak sekecil itu aja ngerti kalau apa saja ada di internet. Mulai dari jajanan malam, toko online, bisnis cracking, phising, ilmu, ada di internet. Kenapa saya bicara semacam ini ?. karena, internet itulah gudangnya ilmu. Ilmu apa saja ada disitu. Mulai ilmu nyolong, ilmu nyantet, ada disitu. Kalau bahasa santri sih “ilmu laduni kuwi, ra usah takok nak ustadz wes ngerti”. Kalau dibandingkan dengan orang terdahulu seharusnya anak zaman sekarang lebih cerdas dan pintar dari pendahulu-pendahulu. Mereka belajar hanya di satu guru, tapi kita belajar dari sistem OL. Dimanapun dan kapanpun yang penting OL, pada saat itulah kita belajar. Asek.
            Nah pada pertemuan kali ini kita mbahas tentang al-Istmun (dosa). Dosa kalau saya artikan adalah sesuatu yang membuat orang takut. Bagaimana tidak, kalau saudara saya tanyai “neng, mau zina sama saya?”, “takut de-o-do, es-a-sa. DOSA, apalagi pake besar bang. Iiiiiicchhh atut”. Itu mah kalau soulmate anda alay bin lebay. Tapi pada intinya sama. Terlepas dari konotasi dan persepsi (asek) orang tentang pengertian itu saya serahkan kepada masing-masing pribadi.
            Orang yang tidak pernah dosa adalah Rasulullah –kan, beliau adalah maksum (terjaga dari dosa)- nah saya kasih resep atawa tips bagaimana cara seseorang tidak dikenakan dosa.
            Rufi’al Qalam atau terangkatnya pena, maksudnya ialah malaikat yang bertugas mencatat segala amal kita itu pena bin pulpen yang selalu dibawanya kesana kemari diangkat oleh Allah karena orang tersebut tidak dikenakan dosa. Salah satunya adalah orang gila, sebagaimana kita ketahui bahwa orang gila alias kamyu adalah orang yang hilang kesadarannya. Segala yang ditindaknya berlandaskan tanpa akal, maka dari itu sang orang gila tersebut tidak pernah dosa dan tidak pernah berpahala. MASUK SURGA, entah surga ataukah neraka itu mah masalah yang di atas, apa gak gitu?. Kalau anda mau setiap pekerjaan anda gak dikenai dosa ya silahkan gila dulu, mau?.
            Yang kedua, orang yang gak dikenai dosa salah satunya juga orang yang tidur. Contoh apabila anda tidur mulai jam 5 sore sampai jam 7 pagi. Sholat apa sajakah yang anda tinggalkan. Maghrib, isya’, sama shubuh kan. Lah kalau gitu ceritanya, anda harus mengqadlai atau mengganti sholat tersebut. Anda tidak berdosa tapi mempunyai kewajiban untuk membayar sholat tersebut, fahimtum ?.

            Terimakasih atas kunjungannya, thx.

santri gak hanya di kitabnya

Santri Gak Hanya di Kitabnya

Orang akan mengira aku ini adalah santri yang tidak ngerti di bidang teknologi. Bahasa gaulnya atawa bahasa “ndeso”nya “gak dong”. Salah pren, i’m-possible. Semuanya itu bisa terjadi seiring waktu jikalau kita berusaha. Kata pepatah “there is a will, there is a way” betul kagak. Santri bukan hanya ngaji kitab gundul atawa digundul gara-gara gak ngaji kitab gundul, but the “santri” is a way when you can know a religion. Intinya sebagai santri adalah jalan menuju kepengetahuan agama. Santri itu bukan hanya yang menetap di pndok utawi asrama. Namun santri yang PP alas pulang pergi alias kagak mukim di asrama itu juga namanya santri, namanya santri “kalong”. Kenapa “kalong” ?, karena setelah ia mendapatkan makanannya (ilmu) ia akan segera pergi. Bahasa lagunya “pergi untuk kembali”. Ya itulah kiranya, sekilas saja agar kalian paham tentag bagaimana jadinya santri yang dituduh kagak ngerti teknologi, padahal.
Murid, dari kata  ارد yang artinya menginginkan, maksud dari menginginkan itu sendiri ialah menginginkan ilmu. Jadi pantaskah murid untuk membangkang kepada gurunya, gak pantes kan, soalnya murid sendiri berarti orang yang menginginkan, jadi seharusnya itu nurut, lawong kita yang butuh je. Bener kagak ?.
“man aradad dunya, fa’alaihi bil ilmi, wa man aradal akhirat fa’alaihi bil ilmi, wa man aradahuma fa’alaaihi bil ilmi”. Sudah jelas kan tujuan kita. Ada lagi, “illa liya’buduun”. Apa anda masih ragu dengan tujuan hidup anda ?. Selain itu kita juga harus memperhatikan akhlaq, “innama bu’itstu li utammima maa karimal akhlaq”. Jangan takut selama anda masih berakhlaq.
Beda loh antar akhlaq dengan etika. Etika diambil dari kata “etis” yang berarti “budaya” (menurutku). Banyak yang ngomong, di antaranya: “gak etis lo”, “gak berbudaya lo”.  Menurut anda kata etis dengan budaya apakah saling berhubungan, bisa jadi harfiahnya sama kan ?. maka dari itu saya mengambil kesimpulan bahwa kedua kata di atas mempunyai maksud yang sama, oleh karenanya etika dengan akhlaq itupun berbeda maknanya. Ada orang beretika (berbudaya) namun tak berakhaq, ada orang berakhlaq sekaligus beretika. Contohnya: di suatu daerah kebiasaan tak pakai kerudung itu sudah biasa, bahkan orang-orang tak lagi risih dengan orang semacam ini. Artinya cewek ini suda beretika (berbudaya) karena orang-orang tak lagi risih dengan hal tersebut. Ada lagi, di Jakarta berbusana layaknya artis adalah hal yang lumrah, bahkan pakai rok mini sekalipun adalah hal yang biasa-biasa saja, namun kalau anda pakai di desa, orang-orng akan mengatakan bahwa anda tak mempunyai etika, tak berbudaya. Kesimpulannya di Jakarta anda beretika namun jika di desa anda tak beretika. Jadi menurut anda etika dan akhlaq apakah mempunyai kesamaan ?.

Sekian dari saya.